Andi Fitriyanto lahir di Jakarta pada 31 Agustus 1980. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Jurnalistik pada salah satu universitas swasta di Jakarta, sebuah latar yang membentuk kepekaannya terhadap bahasa, realitas sosial, dan tanggung jawab intelektual dalam menulis. Dalam perjalanan hidup dan pemikirannya, Andi memilih menanggalkan identitas keagamaan yang pernah melekat padanya, lalu menapaki jalan rasionalitas dengan mengeksplorasi humanisme sebagai pijakan etis dan filosofis, yang kerap ia artikulasikan melalui pendekatan satiris teologis-ideologis kontemporer.
Selain aktif menulis esai-esai reflektif dalam bentuk utas, blog, dan zine, ia juga menorehkan jejak kepenulisan melalui dua buku prosa filsafat yang memadukan pendekatan ilmiah, yakni Antitesis (2019) dan Enigmakrostik (2024), serta satu buku kumpulan cerpen humanis yang membaurkan fiksi, filsafat, dan sains, Inkonfeso (2025). Karya-karyanya dirajut dengan narasi sastrawi yang kontemplatif, mengajak pembaca menyelami tema-tema eksistensial, absurditas hidup, serta pergulatan manusia dalam mencari makna di tengah dunia yang terus berubah. Bagi Andi, menulis bukan sekadar menyampaikan gagasan, melainkan menghadirkan pengalaman berpikir yang hidup di setiap paragraf.
Ketertarikannya pada eksplorasi peradaban dan humanisme tumbuh sebagai kajian multifaset yang kemudian menjadi fokus utama dalam pemikirannya. Melalui tulisan-tulisannya, ia kerap mengajukan kritik tajam terhadap isu-isu sosio-kultural, rigiditas ketuhanan, praktik religiositas yang dogmatis, serta persoalan rasionalitas dan intelektualitas dalam kehidupan modern.
Intensi utama yang senantiasa disisipkan dalam setiap karyanya adalah ajakan untuk menjaga nalar tetap jernih dan merawat ide-ide agar terus hidup, diuji, dan direfleksikan. Dengan konsistensi yang tenang namun berani, Andi mengumandangkan seruan progres yang berlandaskan keilmiahan dan nilai-nilai humanis, sebagai upaya melawan stagnasi berpikir.
Tulisan-tulisan dan buku-bukunya dapat dibaca sebagai bentuk apresiasi sekaligus respek kepada mereka yang, dengan determinasi—baik konsisten maupun sporadis—berani menebar nalar sehat dan menanamkan fondasi berpikir ilmiah, bahkan ketika harus berhadapan dengan alienasi, isolasi, dan diaspora pemikiran.
Mens libera, sine deo.



